Hasil Kajian E-Talk Sinergi Sistem Uang Elektronik Indonesia Rabu, 3 Mei 2017

Uang Elektronik dan Eksistensinya

Uang elektronik adalah uang digital dengan nilai uang yang tersimpan secara elektronik pada sever ataupun kartu. Uang elektronik dapat digunakan melakukan pembayaran di internet maupun di merchant-merchant yang telah bekerjasama dengan penerbit uang elektronik dan dengan menggunakan alat pembaca (reader) khusus. Menurut Bank Indonesia, pada tahun 2010 jumlah uang elektronik yang beredar yaitu sebanyak 7,9 juta keping, sedangkan pada Maret 2017 sebesar 62.985.770 transaksi, dengan volume transaksi mencapai 746.397 miliar. Data tersebut mengisyaratkan bahwa semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk melakukan transaksi menggunakan sistem ini.

Sinergi Uang Elektronik

Dewasa ini banyak beredar kartu uang elektriik dengan standar yang berbeda-beda, tergantung pihak yang menerbitkannya. Hingga April 2017 BI mencatat terdapat 22 penerbit uang elektronik, dimana 10 diantaranya adalah bamk dan sisanya adalah provider ponsel dan lembaga nonbank. Banyaknya penerbit tentu menyebabkan banyaknya produk kartu uang elektronik yang beredar, dimana belum bisa digunakan bertransaksi secara nasional. Contohnya  pada Gerbang Tol Otomatis (GTO) yang hanya bisa dilalui ollleh pemilik uang elektronik milik bank pemerintah, dan mayoritas secure parking yang hanya bisa dilewati oleh Flazz BCA. Hal ini tentu menjadi kendala bagi masyarakat dalam melakukan transaksi nontunai. Diperlukan kartu uang elektronik berbeda untuk merchant yang berbeda, sehingga menyebabkan kurang efesiennya penggunaaan kartu  uang elektronik. Melalui MoU tentang interkoneksi dan interoperabilitas dalam rangka National Payment Gateway (NPG), empat bank raksasa nasional akan melebur sistem pembayaran nontunai melalui uang elektronik ke dalam satu jaringan bersama.

Melalui penggabungan sistem, keempat bank (BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BCA) bisa saling memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun sebelumnya oleh bank pelopor. Sebagai contoh, nantinya Bank Mandiri akan mempersilahkan kartu Flazz BCA untuk bisa digunakan pada Gerbang Tol Otomatis (GTO) yang saat ini dikelola oleh Bank Mandiri, begitu juga dengan layanan secure parking. Adanya sinergi ini memberikan kemudahan bagi pengguna dan penerbit kartu. Penggunaan tak perlu memiliki banyak kartu uang elektronik, cukup satu diantara empat produk kartu untuk digunakan transaksi. Bagi penerbit kartu bisa mekan investasi pembangunan infrastruktur karena bisa berbagai reader dengan bank pelopor yang melakukan MoU.

Sistem yang Mantap

Bank Indknesia memprediksi pada tahun 2020 jumlah transaksi pembayaran online ditarget menembus 130 Milliar US Dollar. Target ini seiring pertumbuhan perusahaan keuangan berbasis teknologi di masa akan datang. Kesiapan sistem dan teknologi harus direncanakan secara matang demi tercapainya Cashless Society. Keterbatasan dalam penyebaran masih menjadi kendala dalam menerapkan sistem ini. Dilihat secara teritorial, Indonesia bagian barat merupakan wilayah yang paling maju daripada wilayah-wilayah lain di Indonesia, hampir dari segala aspek termasuk dalam budaya transaksi nontunai. Selain itu, tingkat literasi keuangan penduduk Indonesia yang tergolong Well Literate atau memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan resiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan hanya sebesar 21,84%. Angka tersebut masih tergolong sangat rendah yang mencerminkan bahwa masyarakat belum terlalu mempercayai lembaga jasa keuangan di Indonesia. Sosialisasi secara intensif dan menyeluruh perlu dilakukan demi meratanya literasi keuangan dan tercapainya Cashless Society.

Leave a Reply